MOS SMP (Part 3)

Pagi pun menjelang, menandakan hari senin telah tiba dan gue harus menyiapkan mental gue untuk  menghadapi kakak-kakak osis di sekolah baru gue yang kerasukan setan mampir. Gue  berangkat sekolah bareng temen gue satu kampung, dia minta gue jemput ke rumahnya karena dia adalah tetangga gue. Gue pun datang ke rumahnya dan ketika sampai di rumahnya, celakanya jin ketawa merasuk ke dalam tubuh gue begitu gue ngeliat penampilan temen gue itu. Parahnya lagi gue ketawanya keras dan lebar banget, padahal ada ibunya di belakang pintu yang sedang nyapu lantai. Ya… bukan salah gue dong, abis ibunya di belakang pintu gak kelihatan, kalau kelihatan pasti gue gak ngetawain anaknya. Gue kan hanya refleks aja liat temen cewek gue itu rambutnya pada berdiri semua gara-gara di kepang pake pita sejumlah tanggal lahirnya, apesnya temen gue itu lahirnya tanggal 29.  Kata ibunya yang cerita sama gue, itu rambut di kepang dari jam setengah lima pagi sampai gue datang kerumahnya pukul 05.45 WIB baru selesai.

Setelah semua temen gue berlima kumpul di rumah temen gue itu, kita bergegas untuk berangkat ke sekolah naik mobil bandosa karena waktu telah menunjukkan pukul 06.00  WIB. Sesampainya di sekolah pak satpam sudah menghadang di depan gerbang, menandakan bahwa kami-kami ini telat. Gue sama temen-temen gue pun langsung berinisiatif dan pasang muka melas. Tapi tampaknya pak satpam sudah kebal sama yang kaya begituan, jadi temen gue berinisiatif untuk lari masuk melewati pak satpam. Gue sempet bingung sama temen gue itu, kayanya temen gue yang satu itu agak kurang waras deh. Pak satpam pun mengejar temen gue yang lari masuk kedalam tadi, walhasil karena pak satpamnya kagak ada jadi gue sama temen gue yang lain bisa masuk. Sampai di dalam mas-mas dan mbak-mbak osis pun sudah siaga dan ngomel-ngomel supaya kami bergegas memakai  perlengkapan untuk MOS dan bergabung di barisan bersama temen yang lain. Sungguh apes gue, kentang-kentang imut yang udah gue rangkai jadi gelang-gelang kaki ketika mau di pake malah pada gelinding. Gue pun jadi satu-satunya siswa yang di tinggal temen-temen gue masuk barisan. Mbak-mbak osis yang bawel terus ngomel dengan suaranya yang amat merdu dan nyaring, sampai-sampai kuping gue pada protes ke gue. Tetapi gue tidak memberi tanggapan apa-apa.

Akhirnya mbak osis yang bawel itu pergi ke lapangan  dan minta temenya mbak osis yang lain untuk mengatasi gue ( dia kira gue ini teroris kali ya.. pake harus di atasi segala, padahalkan gue itu hanyalah seorang siswa polos yang baik hati,suka menolong,tidak sombong, dan rajin menabung). Setelah mbak yang bawel itu pergi, kemudian datanglah temenya mbak osis yang satu lagi. Gue kira temenya mbak osis yang tadi ini bakalan lebih crewet dari dia, Eh tak taunya orangnya baik banget… dia bantuin gue membenahi perlengkapan MOS  yang rusak, dia juga bantuin gue memakai perlengkapan yang super zuper ribet itu.

Oh ternyata ada juga mbak osis yang cantik, baik, putih, udah gitu suka menolong lagi… bakal betah ni gue. hehe

Setelah semua perlengkapan terpakai, gue pun diantar sama mbak osis baik hati masuk ke barisan. Walhasil gue pun sampai ke barisan tanpa kena marah sama kakak osis yang jadi tentor barisan/ kelompok gue. Hari itu pun berjalan sangat panjang karena banyak coba’an yang harus di taklukan, termasuk menaklukan mbak-mbak dan mas-mas osis yang kerasukan setan mampir itu. Tapi yang kerasukan setan mampir tidak semuanya karena ada juga yang seperti bidadari cantik nan baik hati dan suka menolong. Setelah lamanya gue berdoa dan berharap akhirnya bel pulang pun berdering menandakan penderitaan ini akan bersambung selama sementara waktu dulu sampai hari esok menjelang. Dengan penuh semangat gue melangkahkan kaki ini keluar dari pintu gerbang sekolahan. Begitu gue keluar dari pintu gerbang, rasanya itu kaya ketemu paus akrobaik, jatuh di panggung sirkus raksasa, terus meluncur menuju rasi bintang paling manis… atau bisa juga di ibaratkan Bagai burung yang dilepaskan dari sangkarnya. Bebas … bebas dan bebas….

Karena begitu berat cobaan yang harus gue alami saat di sekolah tadi, gue pun langsung pingsan berencana alias tidur setelah mandi dan menjalankan shalat maghrib (alimkan gue?). Tepat pukul 19.30 WIB gue bangun dan melanjutkan hidup gue untuk membuat sebuah rok MOS dari kain perca yang gue minta tadi saat pulang dari sekolah di rumah tetangga gue yang suka menjahit baju. Rok itu dibuat untuk menggantikan rok yang gue buat kemaren dari daun salak. Karena rok yang terbuat dari daun salak itu pada garing dan pada megar-megar gitu, jadi mas dan mbak osis menyuruh semua peserta MOS untuk mengganti rok itu dengan rok baru yang berbahan dasar kain perca. Sementara gue lagi merancang dan mendesain rok untuk MOS besok pagi, ibu gue membantu gue membuat dan menyiapkan makanan untuk di bawa besok yang pastinya aneh-aneh dan sulit untuk di nalar sama orang-orang yang masih waras seperti gue.

 

Bersambung …  (tunggu cerita selanjutnya J )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s